1. Rabies
adalah penyakit infeksi tingkat akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini bersifat zoonotik, yaitu dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Virus rabies ditularkan ke manusia melalu gigitan hewan misalnya oleh anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar. Rabies disebut juga penyakit anjing gila.
Ada tiga golongan :
- Stadium Melancholium, yang mengakibatkan anjing terlihat gelisah, kehilangan selera minum dan makan.
- Stadium Exitatie, yang dalam beberapa hari saja dapat membuat anjing menggigit apa saja, lalu kabur sampai beberapa kilometer
- Stadium Paraltycum, yang dalam waktu seminggu dapat membuat anjing menjadi lumpuh dan mati.
gambar anjing terkena rabies :
2. Canine Distemper
merupakan penyakit akut sampai subakut pada hewan yang menyerang saluran pencernaan, pernapasan dan sistem saraf pusat. Virus distemper dapat menyerang semua umur, namun paling sering pada anjing muda dan tingkat mortalitasnya juga lebih tinggi. Canine distempermenyerang hewan dalam keluarga Canidae, Mustelidae, Mephitidae, Procyonidae dan kemungkinan Felidae. Agen virus yang menyebabkan penyakit ini dikenal dengan nama canine distemper virus (CDV).Virus ini dapat ditransmisikan melalui aerosol (udara), dimana droplets tersebut berasal dari napas atau sekresi nasal hewan penderita distemper .
Canine distemper merupakan penyakit fatal yang sering menyerang saluran pernapasan, saluran cerna dan sistem syaraf pusat. Penyakit ini dapat menyerang anjing berbagai usia. Namun penyakit ini sering menyerang anjing berusia di bawah 1 tahun.
Penyakit ini ditandai dengan demam, leukopenia, gangguan pencernaan serta sering disertai dengan komplikasi pneumonia dan gangguan saraf. Gejala klinis yang timbul bila telah berlanjut pada susunan syaraf pusat seperti kejang-kejang dan myoclonus yang disertai dengan depresi, ataksia, paresis, paralisis dan tremor. Hewan yang terlihat kejang-kejang menandakan bahwa infeksi telah menyebar sampai otak dan menyebabkan kerusakan saraf. Kerusakan yang terjadi pada neuron dan astrosit oleh virus distemper menyebar secara perlahan namun infeksi ini menyebabkan kematial sel secara besar-besaran termasuk pada sel neuron yang tidak terinfeksi. gejala lainnya : demam, gelisah, tidak nafsu makan, mencret, keluar cairan ingus, batuk dan radang paru.

3. Parvo virus
Parvovirus merupakan
virus DNA rantai tunggal, berukuran kecil, dan tidak berkapsul.Parvovirus yang menyerang
anjing adalah
Canine Parvovirus tipe 2 (CPV-2). Virus dapat tetap bersifat
infeksius di tanah yang
terkontaminasi feses selama lebih dari 5 bulan pada kondisi yang sesuai. penyebaran penyakit ini sama dengan canine distemper. hanya 10% dari penderita penyakit ini yang bisa bertahan hidup.
gejala pada anjing : mengalami diare darah, muntah darah, anoreksia,
demam, kelemahan tubuh,
limfopenia terutama
neutropenia. Hewan juga mengalami
dehidrasi, penurunan berat badan, dan rasa sakit di bagian abdominal.
Masa kritis akan berlangsung selama 3 hari (72 jam). Terhitung 24 jam dari buang air besar berdarah pertama, ini adalah masa puncak kritis parvovirus menyebar menyerang tubuh dimana (pada kasus akut) ditemukan banyaknya penderita yang tidak dapat melewati fase ini khususnya pada detik – detik akhir fase tersebut (detik – detik mendekati 24jam).
Ketika memasuki waktu 24 – 48 jam ini adalah fase penyesuaian tubuh terhadap virus, tubuh mulai menyesuaikan diri dan menyusun zat antibodi. Pada Fase 24 – 48 jam ini, gejala muntah dan buang air besar berdarah tetap dijumpai, namun intensitasnya berkurang.
Ketika memasuki waktu 48 – 72 jam, tubuh penderita mulai memproduksi zat antibodi hasil penyesuaian tubuh pada fase sebelumnya. Fase ini bisa disebut fase anti-klimaks (penyembuhan) namun tidak menutup kemungkinan ketidak-berhasilan tubuh beradaptasi yang mengakibatkan kematian.
Setelah melewati tiga fase tersebut (lewat dari 72 jam terhitung dari buang air besar berdarah pertama) peningkatan kesehatan akan mulai terlihat secara signifikan.